Sebagai hamba, sudah sepatutnya kita senantiasa ingat dan takwa kepada Allah ﷻ dan menjadikan-Nya sebagai tujuan utama dalam hidup baik saat lapang maupun sempit. Saat kondisi kita sedang baik, sehat, dan bahagia, jangan lupakan Rabb kita. Justru itulah waktu terbaik untuk lebih mengenal dan mendekat kepada-Nya.
Mengenal Allah bukan hanya lewat lisan atau hafalan, tapi melalui ketaatan dan ibadah yang dilakukan dengan penuh cinta serta kesadaran. Kita taat kepada-Nya karena berharap pahala dan rahmat-Nya. Kita menjauhi larangan-Nya karena takut akan azab dan murka-Nya.
Ketika hidup terasa tenang dan segala kebutuhan tercukupi, itu adalah bentuk nikmat yang besar dari Allah ﷻ. Rasa aman, sehat, dan cukup adalah modal utama untuk beribadah dengan lebih sempurna. Karena saat bahagia, kita lebih leluasa untuk bersedekah, belajar, berbuat baik, dan menyebarkan manfaat.
Namun, kehidupan tidak selamanya berjalan mulus. Ada kalanya ujian datang tiba-tiba. Orang yang awalnya sehat bisa jatuh sakit, yang tadinya kaya bisa mengalami kesempitan harta, yang dulunya aman bisa merasa terancam. Dunia selalu berputar dan keadaan bisa berubah sekejap mata.
Maka beruntunglah orang-orang yang membiasakan diri dekat dengan Allah di saat kondisi mereka masih lapang. Sebab, saat musibah menimpa dan kesulitan datang, Allah tidak akan membiarkan mereka sendirian. Allah akan menolong mereka, memberi jalan keluar, dan melapangkan urusannya karena mereka telah mengenal-Nya sejak awal. Allah Ta’ala dalam surat Ath Tholaq ayat 3-4 berfirman :
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا () وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. “
Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan sebuah kisah penuh hikmah tentang tiga orang dari umat sebelum kita. Kisah ini merupakan permisalan tentang bagaimana keikhlasan dalam beramal shalih dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah di saat paling genting.
Tiga orang laki-laki tersebut sedang dalam perjalanan jauh. Di tengah perjalanan, mereka memutuskan untuk bermalam di dalam sebuah gua. Namun tiba-tiba, sebongkah batu besar jatuh dari gunung dan menutup pintu gua, membuat mereka terjebak di dalam tanpa jalan keluar.
Dalam situasi yang membuat putus asa itu, salah satu dari mereka mengusulkan, “Mari kita mengingat amal-amal terbaik yang pernah kita lakukan karena Allah, lalu kita berdoa dengan menyebut amalan itu sebagai wasilah (perantara), mudah-mudahan Allah memberikan jalan keluar bagi kita.”
Berbakti Kepada Orang Tua
Orang pertama pun mulai berdoa, “Ya Allah, aku dulu memiliki dua orang tua yang telah lanjut usia. Setiap hari aku menggembalakan hewan ternak, dan setiap pulang, aku memerah susu untuk mereka. Aku selalu mendahulukan mereka sebelum istri dan anak-anakku. Suatu hari, aku pergi untuk suatu keperluan, sehingga aku pun terlambat pulang karena jarak yang jauh. Sesampainya aku di rumah, kedua orang tuaku sudah terlelap tidur. Aku tetap memerah susu seperti biasa, lalu berdiri di samping mereka sambil memegang gelas itu, menunggu mereka terbangun. Anakku menangis kelaparan, tapi aku tetap menahan diri tidak memberikannya pada mereka ataupun meminumnya sendiri sampai kedua orang tuaku bangun dan meminumnya. Ya Allah, jika apa yang kulakukan itu murni karena mengharap ridha-Mu, maka bukakanlah sedikit celah bagi kami agar kami bisa melihat langit.”
Lalu, batu besar itu bergeser sedikit, dan cahaya mulai masuk ke dalam gua.
Menjaga Kehormatan dan Takut kepada Allah
Orang kedua pun memanjatkan doanya, “Ya Allah, dulu aku mencintai sepupuku sangat mendalam, hingga aku ingin sekali berbuat zina dengannya, namun ia menolak. Sampai suatu hari ia mendatatngiku karena membutuhkan uang. Aku pun berhasil mengumpulkan seratus dua puluh dinar dan memberikannya kepadanya dengan syarat agar ia bersedia tidur denganku. Saat aku hampir melakukannya, ia berkata: ‘Takutlah kepada Allah! Jangan kau rusak kehormatanku kecuali jika kau berhak atas diriku.’ Maka aku pun bangkit dan meninggalkannya, padahal aku sangat menginginkannya. Aku pun tidak mengambil kembali uang yang telah kuberikan. Ya Allah, jika apa yang kulakukan itu karena takut dan tunduk kepada-Mu, maka bukakanlah jalan keluar bagi kami.”
Lalu batu itu kembali bergeser, menambah celah yang ada, namun mereka masih belum bisa keluar.
Amanah dalam Muamalah
Kemudian orang ketiga pun berdoa, “Ya Allah, dahulu aku memiliki seorang pekerja yang kuberi upah, namun ia pergi sebelum mengambil upahnya. Maka aku gunakan upah tersebut untuk mengelola ladang, hingga hasilnya cukup besar. Aku membeli sapi-sapi dan mempekerjakan penggembala. Setelah waktu berlalu, orang itu datang kembali menagih upahnya. Maka aku katakan kepadanya: ‘Semua sapi dan penggembalanya itu adalah milikmu ambillah!’ Ia sempat mengira aku bercanda, tapi aku tegaskan bahwa aku tidak sedang bergurau. Ia pun mengambil semuanya tanpa aku ambil sedikit pun bagian darinya. Ya Allah, jika aku melakukan itu murni karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah seluruh jalan bagi kami.”
Maka Allah pun membuka sepenuhnya jalan keluar dari gua, dan mereka pun selamat.
Pelajaran Penting dari Kisah ini
Kisah ini bukan sekadar cerita. Rasulullah ﷺ menyampaikannya sebagai pelajaran untuk kita bahwa mengenal Allah dalam keadaan lapang dan senang akan membawa pertolongan Allah ketika kita berada dalam kesempitan. Ketiga orang ini tidak sedang berdoa dengan menyebut nama orang lain atau menggantungkan harapan kepada makhluk. Mereka hanya menyebut amal-amal ikhlas mereka sendiri yang mereka lakukan karena Allah semata.
Orang pertama menunjukkan keikhlasan dalam berbakti kepada kedua orang tua, bahkan mengorbankan kenyamanan diri dan anak-anaknya demi menjaga adab kepada orang tuanya.
Orang kedua menggambarkan keteguhan menjaga kehormatan dan rasa takut kepada Allah, meskipun syahwat telah berada di depan mata.
Orang ketiga menampilkan puncak amanah dan kejujuran dalam bermuamalah, menyerahkan seluruh hasil kerja kerasnya kepada pemilik hak, tanpa menahan sedikit pun.
Semua ini adalah bukti bahwa mengenal Allah di waktu lapang dengan ketaatan, rasa takut, dan keikhlasan akan menjadi sebab turunnya rahmat dan pertolongan-Nya saat sempit.
Ini adalah sunnatullah yang berlaku sampai hari kiamat: Barang siapa yang menjaga hubungannya dengan Allah dalam kondisi baik, maka Allah akan menjaganya ketika ia dalam kondisi sulit.
تعرف على الله في الرخاء يعرفك بالشدة
“Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu sempit.”
(HR. Tirmidzi, Ahmad dan Baihaqi)
[By : Carna Dzul]
