Pengorbanan dan kasih sayang orang tua yang telah mengukir dan membentuk kehidupan seorang anak tak mungkin terbayar setimpal dengan bakti-bakti sang anak, meski itu adalah cara terbaik. Bakti anak tetap menjadi hak orang tuanya sebagai penawar lelahnya hati selama membersamai sang anak. Sayangnya, tuntutan kehidupan dan ragam aktivitas sang anak kerap menggeser prioritas, sehingga makna bakti kepada orang tua pun terkadang terabaikan dan tanpa disadari membuat kita kurang memperhatikan bentuk bakti yang semestinya. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai anak pernah dilahirkan dan dibesarkan oleh mereka untuk bersama-sama merefleksikan kembali makna dari birrul walidain (berbakti kepada orang tua).
Birrul walidain bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga perintah agama yang bernilai ibadah. Di dalam Al-Qur’an, perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua sering kali disandingkan langsung setelah perintah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan bakti kepada orang tua.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surah Al-An’am ayat 151:
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا…
“Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua…'” (QS. Al-An’am: 151)
Bakti ini bisa dengan berbuat baik, memenuhi hak-haknya, menaati perintahnya selama tidak menyelisihi syariat Allah. dan melakukan segala perbuatan yang dapat mendatangkan keridhaan mereka.
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
رِضَى اللهُ فِي رِضَى الوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللهُ فِي سَخَطِ الوَالِدَيْنِ
“Keridhaan Allah ada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang tua.” (HR. At-Tirmidzi, dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Mencari ridha orang tua bukan hanya sekedar memenuhi kewajiban sosial, tetapi langsung berkaitan dengan meraih cinta dan keridhaan-Nya. Sebaliknya, durhaka atau membuat orang tua murka adalah jalan yang membawa kepada kemurkaan Allah. Ini menunjukkan bahwa birrul walidain adalah pintu utama untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih keberkahan dalam hidup.
Dalam Islam, bakti kepada orang tua bisa dilakukan dalam banyak hal, tidak hanya dengan memberi uang atau barang, tetapi juga melalui doa dan perhatian dari hati. Berbakti kepada orang tua bisa dimulai dari cara berbicara yang sopan hingga perhatian tulus yang kita berikan. Apapun kebaikan yang kita lakukan untuk orang tua, betapapun kecilnya, adalah bentuk bakti yang sesungguhnya. Berikut adalah beberapa bentuk bakti yang perlu dipraktekkan :
- Menaati Perintahnya selama dalam Kebaikan
Ketaatan kepada orang tua adalah kewajiban, selama perintah mereka tidak bertentangan dengan syariat Allah. . Sebagaimana firman Allah dalam QS. Luqman ayat 15:
وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…”
Sikap penghormatan terhadap orang tua tetap ada batasannya. Karerna ketaatan mutlak hanya untuk Allah. Jika orang tua memerintahkan kemusyrikan atau kemaksiatan, seorang anak tidak boleh menaatinya. Namun, wajib tetap bersikap sopan dan baik kepada mereka meski dalam situasi seperti ini. - Menghormati dan Menjaga Perasaan Mereka
Sikap hormat adalah fondasi utama berbakti. Yang dapat diamalkan dengan bertutur kata lembut, mendengarkan nasihatnya dengan penuh perhatian, serta menghindari segala hal yang dapat menyinggung atau menyakiti hatinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS. Al-Isra’ : 24 :
وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang (QS. Al-Isra’: 24)
Allah ta’ala telah menegaskan agar kita merendahkan pandangan di hadapan orang tua, tidak berjalan di depannya, dan tidak meninggikan suara melebihi suara mereka adalah bagian dari penghormatan. Menjaga perasaan orang tua, bahkan dalam hal kecil, memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. - Mendoakan Kebaikan untuk Mereka
Bakti kepada orang tua harus tetap dipertahankan, baik saat mereka hidup ataupun setelah wafat. Mendoakan mereka agar diampuni dosa-dosanya dan diterima semua amalnya adalah bentuk bakti yang paling berkelanjutan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ انّى لِيْ هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
“Sesungguhnya ada seseorang yang diangkat derajatnya di surga. Ia pun bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mendapatkan ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu memohonkan ampunan untukmu’.” (HR. Ibnu Majah)
Doa dan istighfar anak yang saleh adalah salah satu amal jariyah yang terus mengalirkan pahala bagi orang tua yang telah wafat. Ini adalah hadiah terindah yang dapat diberikan seorang anak. - Merawat dan Memenuhi Kebutuhan Mereka
Seiring bertambahnya usia, orang tua membutuhkan perhatian dan perawatan lebih. Merawat mereka di kala sakit atau lemah, serta memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan dengan penuh kasih sayang adalah kewajiban yang sangat dihargai. Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
قَالَ رَسُول اللَّهِ : مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ
Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya (masih hidup) di masa tua mereka, salah seorang atau keduanya, lalu (dengan keadaannya itu) ia tidak masuk Surga, maka sungguh ia telah rugi (HR Muslim 4627)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa kesempatan merawat orang tua di usia senja mereka adalah “tiket langsung” menuju Surga. Ibadah merawat dan berbakti kepada orang tua yang sudah senja bukanlah sekadar kewajiban biasa, melainkan sebuah amalan yang memiliki bobot luar biasa hingga dapat menjadi sebab utama seseorang diampuni dosanya dan dimasukkan ke dalam Surga.
Hadits ini harus menjadi motivasi terbesar bagi setiap anak untuk memberikan yang terbaik, penuh kesabaran dan kasih sayang, ketika mengurus orang tuanya yang telah lanjut usia. - Memohon Restu dan Menghargai Pengalamannya
Meminta restu dan pertimbangan orang tua sebelum mengambil keputusan penting dalam hidup, seperti memilih pasangan atau pekerjaan, adalah bentuk pengakuan akan pengalaman dan kebijaksanaan mereka. Restu orang tua membawa keberkahan dan juga mengundang doa terbaik untuk kesuksesan langkah kita. Sikap ini memperkuat ikatan batin dan membuat orang tua merasa masih dihargai perannya. - Meluangkan Waktu dan Menjaga Silaturahmi
Di tengah kesibukan, kehadiran dan perhatian tulus seringkali lebih berharga daripada materi. Rutin mengunjungi, menanyakan kabar, atau sekadar meluangkan waktu untuk bercengkerama dapat mengisi hati orang tua dengan kebahagiaan.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan untuk menyambung silaturahmi. Berbakti dengan meluangkan waktu adalah cara terbaik untuk menyambung tali kasih sayang ini. Senyum dan kebahagiaan orang tua karena kedatangan anaknya adalah sumber pahala yang besar.
Demikianlah, birrul walidain bukan sekadar tuntutan dan kewajiban semata, akan tetapi juga menjadi jalan lurus menuju keridhaan Allah SWT. Setiap lembutnya tutur kata, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap perhatian yang tulus kepada orang tua adalah investasi berharga untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
Mari jadikan ini sebagai pengingat untuk senantiasa evaluasi diri; sudah sejauh mana bakti kita? Di tengah hiruk-pikuk kesibukan, semoga kita tidak pernah lalai untuk mengisi hari-hari orang tua kita dengan kebahagiaan, karena meraih surga dapat dimulai dari keridhaan kedua orang tua di rumah. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dengan cara berbakti, sehingga kelak dapat meraih keridhaan Allah melalui keridhaan orang tua kita.
[By: Carna Dzul]
