Sya’ban sering kali menjadi bulan yang terlupakan karena letaknya yang terhimpit di antara kemuliaan Rajab dan kemegahan Ramadan. Padahal, Rasulullah ﷺ justru menjadikannya sebagai momentum emas untuk memperbanyak puasa, di mana beliau ﷺ bersabda, “Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia… dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa” (HR. An-Nasa’i). Beribadah di waktu lalai seperti ini merupakan bentuk keikhlasan tertinggi seorang hamba untuk mempersiapkan jiwa agar lebih siap menyambut manisnya ibadah di bulan suci nanti.
Puasa merupakan ibadah yang sangat agung karena di dalamnya terpancar keikhlasan seorang hamba. Meski ibadah ini tampak sekedar menahan lapar dan dahaga saja, namun keistimewaan ibadah ini terletak pada sisi kerahasiaannya. Karena hanya Allah dan hamba tersebut yang mengetahui hakikat puasanya, sehingga Allah memberikan ganjaran khusus yang tidak diberikan pada amalan lainnya.
Berbeda dengan amal lain yang pahalanya dilipatgandakan dengan hitungan tertentu, pahala puasa ditetapkan langsung oleh Allah tanpa batas yang diketahui manusia. Dalam Hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman:
“كل عمل أبن آدم له إلا الصيام لي وأنا أجزي به”
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” [HR. Bukhari Muslim]
Puasa juga berfungsi sebagai kafarat atau penghapus noda dosa yang muncul selama menjalankan kehidupan. Rasulullah ﷺ bersabda :
“فتنة الرجل في أهله وماله وولده وجاره تكفّرها الصلاة والصيام والصدقة والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر”
“Fitnah (ujian) seseorang pada keluarganya, hartanya, anaknya, dan tetangganya dihapuskan oleh shalat, puasa, sedekah, serta amar ma’ruf dan nahi munkar.” [HR. Tirmidzi]
Di akhirat kelak, para ahli puasa akan dimuliakan dengan jalur masuk khusus ke dalam surga yang tidak boleh dilalui oleh golongan lain. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira :
في الجنة باب يقال له: الريان، يدخل منه الصائمون يوم القيامة، لا يدخل منه أحد غيرهم، فإذا دخلوا أغلق فلم يدخل منه أحد
“Di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk lewat pintu itu. Jika mereka telah masuk, pintu itu ditutup dan tidak ada lagi yang masuk melaluinya.” [HR. An Nasa’i]
Sya’ban, Bulan Spesial bagi Rosulullah
Bulan Sya’ban menempati posisi yang sangat spesial dalam agenda ibadah Rasulullah ﷺ. Jika di bulan-bulan lain beliau berpuasa secara rutin, maka di bulan Sya’ban beliau meningkatkan intensitasnya hingga hampir sebulan penuh.
Sya’ban merupakan waktu di mana catatan amal ibadah manusia diserahkan kepada Allah. Rasulullah ﷺ ingin menutup catatan tersebut dengan penutup yang terbaik (puasa). Dalam riwayat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, Rosulullah bersabda: ذاك شهر تغفل الناس فيه عنه، بين رجب ورمضان، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم
“Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, berada antara Rajab dan Ramadan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” [HR. An-Nasa’i]
Para istri Nabi memberikan kesaksian bahwa beliau tidak pernah sesemangat itu berpuasa sunnah kecuali di bulan Sya’ban. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
وما رأيته أكثر صيامًا منه في شعبان
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ lebih banyak berpuasa dalam satu bulan selain bulan Sya’ban.” Demikian juga Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata,
ما رأيت رسول الله يصوم شهرين متتابعين إلا شعبان ورمضان.
“Tidak pernah aku melihat Nabi ﷺ berpuasa dua bulan berturut-turut Kecuali Puasa bulan Sya’ban dan Ramadan”. Pembantu Rosulullah, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun juga menyebutkan bahwa puasa yang paling beliau sukai adalah puasa di bulan Sya’ban.
Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Puasa Rasulullah ﷺ di bulan Sya’ban adalah puasa sunnah yang paling banyak dibanding bulan lainnya, dan beliau berpuasa di sebagian besar bulan itu.”. Hal ini dapat dimaknai bahwa beliau berpuasa di sebagian besar hari bulan Sya’ban, yang dalam bahasa Arab biasa diungkapkan sebagai “sebulan penuh”.
Para ulama seperti Ibnu Rajab rahimahullah dalam Lathaiful Ma’arif menjelaskan bahwa puasa Sya’ban seperti latihan agar raga dan jiwa terbiasa sebelum “pertempuran” utama di bulan Ramadan. Dengan memulai di bulan Sya’ban, seseorang akan merasakan lebih awal bagaimana “nikmat”-nya berpuasa, sehingga saat Ramadan tiba, ia tidak lagi merasa berat melainkan menjalaninya dengan penuh kekuatan dan semangat. [Lihat : Lathaiful Ma’arif, hal. 134]
Sya’ban begitu istimewa karena bulan ini menjadi arena untuk berlomba dalam ibadah, yang tentunya bagi mereka yang memiliki kesungguhan tekad dan mendamba nikmatnya takwa. Sabda Nabi ﷺ, “Ini adalah bulan yang manusia lalai darinya…”, memberikan isyarat bahwa beribadah saat mayoritas orang tidak melakukannya adalah indikasi keimanan dan ketakwaan yang kuat. Semakin berat perjuangan untuk beramal, semakin istimewa kedudukannya di sisi Allah.
Belum berakhir…
Wahai saudaraku, hari demi hari terus berlalu dalam umur kita dan waktu hidup kita kian menyusut. Kesempatan emas ini kini ada di hadapanmu. Janganlah menjadi orang yang hanya tersadar saat waktu telah habis, sebab Sya’ban adalah gerbang terakhir sebelum kita benar-benar menginjakkan kaki di bulan suci Ramadan.
مضى رجب وما أحسنت فيـه وهذا شهر شـعبان المبـارك
فيـا من ضيع الأوقـات جهلا بحرمتها أفق واحـذر بوارك
فسـوف تفـارق اللذات قهـرا ويخلى الموت قهرا منك دارك
تدارك ما استطعت من الخطايا بتوبة مخلص واجعل مـدارك
على طلب السـلامة من جحيم فخير ذوي الجرائم من تدارك
Rajab berlalu tanpa kau raih kebaikannya.
Kini Sya’ban hadir dengan keberkahannya.
Wahai kau yang sia-siakan waktu karena kebodohan.
Sadarlah, sebelum tertimpa kehancuran.
Kelak nikmat itu akan meninggalkanmu.
Dan kematian akan memisahkanmu dari duniamu.
Kejar ampunan dengan taubat yang murni.
Jadikan itu sebagai tujuanmu yang hakiki.
Untuk selamat dari siksa neraka tak terperi.
Itulah cara terbaik bagi pendosa untuk kembali.
Sya’ban belum berakhir. Mari kita basahi kembali lisan dengan tilawah, tundukkan hati dengan taubat, dan latih raga dengan puasa. Semoga Allah memberi kita taufik untuk beribadah secara lahir dan batin, serta menyampaikan usia kita hingga ke bulan Ramadan dalam keadaan terbaik.
(Tim Media Al Kayyis)
